Sejarah Singkat Batik Solo

By | May 21, 2018

Sejarah batik Solo tentu tidak lepas dari pengaruh Keraton. Batik dulu berasal dari Kerajaan Pajang sekitar 4 abad yang lalu. Kerajaan Pajang merupakan kelanjutan dari Dinasti Demak dimana pemerintahannya dipindahkan ke Pajang dari Demak Bintoro.

Peran Dinasti Pajang

Tokoh pertama yang memperkenalkan batik adalah Kyai Ageng Henis di desa Laweyan yang masuk wilayah kerajaan Pajang. Ki ageng Henis merupakan keturunan Ki Ageng Selo dari keturunan Brawijaya V. Beliau tinggal di Laweyan sejak 1546 M.

Desa yang juga terletak di tepi sungai Laweyan ini merupakan pusat perdagangan Lawe atau bahan tenun. Bahan bakunya dipasok dari Juwiring, Gawok dan Pedan. Distribusi barang tersebut dilakukan melalui bandar Kabanaran tak jauh dari pasar Lawe. Dari Bandar tersebut, batik terhubung ke daerah pesisir.

Batik Solo Keraton Surakarta

Keraton Surakarta yang berdiri pada tahun 1745 diikuti dengan berkembangnya batik Surakarta. Di tahun 1755 perjanjian Giyanti membuat perpecahan Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta sehingga busana kebesaran Mataram diboyong ke Keraton Yogyakarta. Disamping itu, PB III memerintahkan untuk membuat motif Gagrak Surakarta.

Karena perintah tersebut maka banyak bermunculan cikal bakal motif batik Solo di masyarakat. Namun, ada beberapa jenis batik yang dilarang dikenakan oleh rakyat biasa, hanya para patih dan kerabat saja. Batik tersebut diantaranya baik sawit, parang, cemukiran berujung seperti paruh podang, minyak teleng, bagun tulak, dan lain-lain.

Abdi dalem bertugas membuat rancangan bagi keraton. Banyak dari mereka yang tinggal di luar keraton akhirnya membentuk komunitas perajin batik. Bahan utama masih menggunakan soga Jawa.

Batik Awal Abad 20

Di masa ini, batik sudah masuk era industrialisasi dan terbentuknya kelompok pedagang, salah satunya Sarekat Dagang Islam oleh KH Samanhudi. SDI berdiri untuk menunjukkan masyarakat pribumi dalam bersaing dengan pedagang Cina dan Belanda, dan juga mempertahankan batik sebagai pilar utama ekonomi Jawa.

Hingga kini Batik Laweyan masih tetap eksis, dan Batik Solo di masa sekarang memiliki dua sentra batik yaitu di Laweyan dan Kauman yang terus mempertahankan batik tradisional Solo.